Asal Mula Penciptaan
September 1, 2010 at 8:35 am 8 komentar
Kemajuan teknologi luar angkasa sudah memungkinkan kita melihat lebih jauh dari yang pernah kita bayangkan. Kita bahkan bisa melihat masa lalu. Penasaran? Mari kita bahas.
Andaikan kita berdiri sebagai pusat sebuah bola raksasa di luar angkasa yang berjari-jari, katakanlah, sejuta tahun cahaya. Andaikan ada sebuah bintang yang terletak pada kulit bola tersebut. Mengingat jaraknya, berarti cahaya bintang tersebut akan sampai ke mata kita sejuta tahun kemudian. Hal ini berarti,ketika *sekarang* kita melihat cahaya bintang tersebut, kita sebenarnya sedang melihat bintang tersebut pada keadaannya sejuta tahun lalu. Sedangkan apa yang sedang terjadi di bintang itu *sekarang* baru akan kita lihat sejuta tahun lagi. Mungkin saja sekarang bintang itu sudah mati, menjadi supernova, atau lubang hitam. Siapa yang tahu?
Itulah yang saya sebut “melihat masa lalu.”
Sekarang para ilmuwan luar angkasa sudah dapat menghitung jarak terjauh alam semesta. Karena saya lupa berapa angka persisnya, kita anggap saja “hahaha” tahun cahaya. Nah, dari situ timbullah masalah (tanpa bermaksud menyinggung, tetapi bukankah memang itulah pekerjaan para ilmuwan – mencari “masalah”?). Jika jari-jari “bola” alam semesta kita ini adalah “hahaha” tahun cahaya, bukankah berarti itu adalah jari-jari “bola” alam semesta kita “hahaha” tahun yang lalu? Lalu bagaimana keadaan “bola” sebelum itu? Bagaimana keadaannya pada awal mula, pada waktu nol? Tidak (setidaknya belum) ada yang tahu.
Hanya Sang Pencipta yang tahu.
Tetapi siapakah Sang Pencipta itu?
Kalau boleh, saya akan meralat pertanyaan itu. Menurut pemikiran saya yang dangkal ini, Sang Pencipta bukanlah “siapa”, melainkan “apa”. Nah, sebelum Anda semua melempari saya dengan batu, izinkan saya menjelaskan pemikiran saya terlebih dulu.
Sebagai orang Nasrani (walaupun tidak taat), saya berpegang pada Alkitab (Kitab Suci/The Holy Bible). Di sana dituliskan bahwa Sang Pencipta memulai segalanya dari ketiadaan. Sedangkan sebagai seorang yang *pernah* blajar fisika, saya mengerti bahwa ada yang disebut hukum kekekalan materi, mirip seperti hokum kekekalan energi. Adalah mustahil untuk menciptakan materi dari ketiadaan materi. Menurut sebuah novel fiksi ilmiah yang pernah saya baca, dan didukung pula oleh teori penciptaan alam semesta yang sampai sekarang masih *dianggap* benar (karena belum dapat dibuktikan), alam semesta tercipta dari sebuah ledakan yang mahadahsyat. Namun apakah yang menyebabkan ledakan tersebut? Bagaimana ledakan tersebut bisa terjadi?
Inilah yang sangat saya sayangkan dari tulisan ini, bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut tidak datang dari sebuah jurnal ilmiah, tetapi dari sebuah novel sains-fiksi. Menurut novel tersebut (yang saya tidak berani menjamin kebenaran dan keabsahannya karena bagaimanapun itu adalah sebuah novel), ledakan tersebut terjadi karena adanya kepadatan energi yang luar bisaa.
Berarti memang benar, materi tercipta dari ketiadaan materi? Sekali lagi maaf, saya memberanikan diri menjawab “ya”. Tetapi tidak dapat dilupakan bahwa ada aspek yang lain yang terlibat: titik energi. Jadi masuk akallah bahwa Sang Pencipta menciptakan segalanya dari ketiadaan. Masuk akal pula saya menyebut Sang Pencipta bukan sebagai “siapa”, melainkan sebagai “apa”. Titik energi itulah Sang Pencipta! Ups, maaf, maksud saya Sang Pencipta adalah titik energi itu.
Lalu darimana titik energi itu berasal? Saya juga tidak tahu. Jawaban yang sama atas pertanyaan, “Jika Sang Pencipta menciptakan segalanya, lalu (si)apakah yang menciptakan Sang Pencipta?”
Dalam hal ini saya berani berbicara bahwa justru di situlah letak keagungan Sang Pencipta!
Mari kita lanjutkan kepada penciptaan makhluk hidup. Seorang guru biologi saya semasa SMA dulu pernah bercerita bagaimana para ilmuwan telah dapat mensintesis (menciptakan?) sel telur dan sel sperma dengan komposisi unsure dan senyawa yang tepat seperti aslinya. Namun apa yang terjadi ketika mereka disatukan? Tepat sekali, tidak ada. Makhluk hidup tidak hanya terdiri atas sekian persen unsur ini, sekian persen senyawa itu, sekian gram mineral X, dan sebagainya. Lebih dari itu, mereka memerlukan sebuah daya hidup! “daya hidup” inilah yang saya yakini sebagai bukti adanya Sang Pencipta. Lebih dari itu, “daya hidup” itulah Sang Pencipta! Ups, salah lagi. Maksud saya, Sang Pencipta adalah “daya hidup” itu.
Oke, sekarang saya bisa mendengar Anda berbicara seperti ini, “Anda meracau. Anda pasti sedang mabuk. Tadi Anda bilang Sang Pencipta adalah titik energi. Sekarang Anda katakan Sang Pencipta adalah daya hidup. Entah apalagi yang akan Anda katakan nanti. Yang mana yang harus saya percaya?”
Sederhana, Saudara! Keduanya. Atau tidak ada.
“Tapi mengapa?”
Sederhana juga. Dia adalah Sang Pencipta. Siapa yang bisa membatasi diri-Nya? Bahkan hukum alam pun takluk pada-Nya. Bagaimana kita, manusia, yang memahami hukum alam pun tidak dapat sempurna, mau mencoba memahami Sang Pencipta hukum alam?
Pikiran kita masih sangat primitif. Kita menganggap Sang Pencipta sebagai “siapa” karena kita tidak memiliki gambaran lain yang dapat mewakili kehebatan-Nya. Kita merasa bahwa kitalah makhluk tertinggi. Maka kita menganggap Yang Paling Tinggi pasti juga “siapa” (ingat bahwa kata “who” mengacu pada manusia, sedangkan “what” mengacu pada benda).
Padahal mungkin saja ada “keberadaan” lain yang lebih tinggi dari kita. Beberapa menyebutnya ET, alien, atau semacamnya. Tapi saya bilang, “keberadaan” lain tersebut mungkin sudah bukan lagi “apa”. Saya belum dapat menemukan kata tanya yang tepat karena selain saya bukan seorang ahli bahasa, saya juga belum pernah menjumpai (encounter) “keberadaan” tersebut.
Jadi, siapakah Sang Pencipta?
Apakah Sang Pencipta itu “siapa” atau “apa”?
…kah Sang Pencipta?
Marilah berdoa menurut iman kita masing-masing. Sejenak kita syukuri, kita rasakan, kita sadari keagungan-Nya. Setelah itu, jika Anda masih tetap ingin melempari saya dengan batu, it’s yours.
Yogyakarta, 11 Agustus 2010
NB. yang saya tulis adalah hasil pemikiran saya, jadi tulisan ini adalah opini. Saya berharap tidak ada yang keliru menggunakan tulisan ini sebagai sumber referensi.
Entry filed under: life and thoughts. Tags: .
8 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Devi | September 2, 2010 pukul 2:33 pm
Hmm… You make me more CONFUSE about this life!!
i am *little bit* atheist and now i more believe that THERE IS NO GOD -.-”
So, can u tell me what’s the meaning of life?
2.
angel_birth | September 2, 2010 pukul 5:04 pm
sorry,this post wasn’t intended to tell you such things..
i’m only sharing what’s inside my freaky mind to others.
if you believe there’s no god, it’s yours.
the meaning of life,eh? let’s just say, we live to love.. hahaha
3.
grayhat | September 2, 2010 pukul 6:48 pm
wogh.. jd intine ap ki? wkwkwk
4.
angel_birth | September 2, 2010 pukul 11:23 pm
wah grayhat ki pura2 tidak mengerti e..
5.
JuG | September 5, 2010 pukul 9:47 pm
Just give you a quote:
‘God did not create the universe and the “Big Bang” was an inavitable concequence of the laws of physics”-”The Grand Design” Stephen Hawking
I am also not sure about this, because this world is a mistery that one day will be revealed.
6.
angel_birth | September 6, 2010 pukul 1:39 pm
One thing he can’t see is that the law of physics wouldn’t exist if there was NO CREATOR!
Good point, I myself ain’t pretty sure about it, though…
7.
364 | September 24, 2010 pukul 11:46 pm
first, im no good at english..
somehow i think that i need to write it in english…
it’s difficult to write this text.
let’s back to the main topic…
that’s a mystery nobody can answer…
let us believe in God or whatever you called him..
8.
angel_birth | September 27, 2010 pukul 5:22 pm
thanks 364 for leaving a comment..
actually i wrote this post to prove that The Creator DOES EXIST!
just trying to convince those non-believers out there